Publikasi Medium

Publikasi Medium

Melangkah ke Dunia UI/UX Design: Apakah Ini Pilihan yang Tepat?

Melangkah ke Dunia UI/UX Design: Apakah Ini Pilihan yang Tepat?

Melangkah ke Dunia UI/UX Design: Apakah Ini Pilihan yang Tepat?

Selasa, 22 Agustus 2023

Selasa, 22 Agustus 2023

Pilihan untuk beralih ke karir sebagai UI/UX Designer atau UI Designer dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu opsi yang menarik, baik bagi mereka yang tengah melakukan perubahan karir, menjelajahi bidang baru, atau bahkan bagi individu yang telah lama tertarik pada bidang ini.


Perkembangan ini tidak terlepas dari maraknya peluang belajar melalui berbagai platform, seperti bootcamp, e-learning, e-course, dan webinar yang mengupas tuntas tentang “Mengembangkan Karir sebagai UI/UX Designer dari Nol.” Para pemilik platform pembelajaran memanfaatkan situasi ini untuk memasarkan program-program ini dengan beragam trik pemasaran, mulai dari menjanjikan 100% peluang mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian hingga potensi gaji bulanan yang menggiurkan.

Pilihan untuk beralih ke karir sebagai UI/UX Designer atau UI Designer dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu opsi yang menarik, baik bagi mereka yang tengah melakukan perubahan karir, menjelajahi bidang baru, atau bahkan bagi individu yang telah lama tertarik pada bidang ini.


Perkembangan ini tidak terlepas dari maraknya peluang belajar melalui berbagai platform, seperti bootcamp, e-learning, e-course, dan webinar yang mengupas tuntas tentang “Mengembangkan Karir sebagai UI/UX Designer dari Nol.” Para pemilik platform pembelajaran memanfaatkan situasi ini untuk memasarkan program-program ini dengan beragam trik pemasaran, mulai dari menjanjikan 100% peluang mendapatkan pekerjaan di perusahaan impian hingga potensi gaji bulanan yang menggiurkan.

Masa Pandemi COVID-19 2020: Gelombang Baru Startup Aplikasi

Masa Pandemi COVID-19 2020: Gelombang Baru Startup Aplikasi

Tahun 2020 menjadi waktu yang tak terduga bagi dunia bisnis dan teknologi di Indonesia dengan merebaknya pandemi global. Namun, di tengah tantangan yang dihadapi, masa pandemi ini juga memberikan dorongan tak terduga bagi industri startup aplikasi. Gelombang baru inovasi dan kebutuhan akan solusi digital telah menciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya berbagai startup baru di berbagai bidang.


Pandemi memicu perubahan dalam perilaku konsumen, yang memilih untuk berbelanja secara online, bekerja dari rumah, dan mengakses layanan melalui platform digital. Permintaan akan solusi yang mendukung gaya hidup baru ini melejit tajam. Inilah yang mendorong para inovator dan pengusaha untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi yang dapat mengatasi masalah-masalah yang muncul akibat perubahan ini.

Tahun 2020 menjadi waktu yang tak terduga bagi dunia bisnis dan teknologi di Indonesia dengan merebaknya pandemi global. Namun, di tengah tantangan yang dihadapi, masa pandemi ini juga memberikan dorongan tak terduga bagi industri startup aplikasi. Gelombang baru inovasi dan kebutuhan akan solusi digital telah menciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya berbagai startup baru di berbagai bidang.


Pandemi memicu perubahan dalam perilaku konsumen, yang memilih untuk berbelanja secara online, bekerja dari rumah, dan mengakses layanan melalui platform digital. Permintaan akan solusi yang mendukung gaya hidup baru ini melejit tajam. Inilah yang mendorong para inovator dan pengusaha untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi yang dapat mengatasi masalah-masalah yang muncul akibat perubahan ini.

Fenomena Bubble Burst

Fenomena Bubble Burst

Fenomena Startup Bubble Burst diawali dengan kondisi pandemi tahun 2020–2021 yang membuat peredaran uang secara global menurun. Federal Reserve (FED) mengatasi hal ini dengan membeli obligasi sebesar $13 triliun dari bank komersial, agar bank memiliki simpanan cash atau uang yang bersifat likuid lebih banyak. Namun, kebijakan ini justru mengakibatkan jumlah uang beredar meningkat drastis hingga terjadilah inflasi yang mencapai 8,3% hingga April 2022. Karena inflasi terlanjur terjadi, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh FED adalah menaikkan suku bunga sebesar 0,50%. Peningkatan sebesar setengah persen ini adalah peningkatan suku bunga terbanyak selama 22 tahun terakhir.

Seiring dengan meningkatnya suku bunga, venture capital (VC) mulai “berhemat” untuk menyuntikkan dana ke startup. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya dana yang tersedia untuk venture capital, yang kini lebih mencari tempat yang aman atau menguntungkan untuk berinvestasi. Akibatnya, peluang bagi startup untuk mendapatkan pendanaan menjadi lebih sulit. Bahkan bagi startup yang sudah mendapatkan suntikan dana, mereka juga akan mengurangi pengeluaran dengan perlahan-lahan mengurangi diskon dan promo. Pada akhirnya, situasi ini berdampak pada startup yang hanya hidup dari sokongan dana venture capital, alias belum sepenuhnya profit. (Sumber: https://www.binaracademy.com/blog/penyebab-awal-startup-bubble-burst).

Tahun 2022 dapat dicatat sebagai waktu yang penuh tantangan bagi dunia IT. Sejumlah besar perusahaan di sektor IT di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, ribuan pekerja kehilangan pekerjaan mereka. Tren serupa terjadi di seluruh dunia, termasuk di perusahaan raksasa seperti Amazon yang merumahkan 10.000 karyawan dan Twitter yang mem-PHK 7.500 karyawan. Bahkan efeknya masih terasa hingga pertengahan tahun 2023 ini.
Fenomena Startup Bubble Burst diawali dengan kondisi pandemi tahun 2020–2021 yang membuat peredaran uang secara global menurun. Federal Reserve (FED) mengatasi hal ini dengan membeli obligasi sebesar $13 triliun dari bank komersial, agar bank memiliki simpanan cash atau uang yang bersifat likuid lebih banyak. Namun, kebijakan ini justru mengakibatkan jumlah uang beredar meningkat drastis hingga terjadilah inflasi yang mencapai 8,3% hingga April 2022. Karena inflasi terlanjur terjadi, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh FED adalah menaikkan suku bunga sebesar 0,50%. Peningkatan sebesar setengah persen ini adalah peningkatan suku bunga terbanyak selama 22 tahun terakhir.

Seiring dengan meningkatnya suku bunga, venture capital (VC) mulai “berhemat” untuk menyuntikkan dana ke startup. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya dana yang tersedia untuk venture capital, yang kini lebih mencari tempat yang aman atau menguntungkan untuk berinvestasi. Akibatnya, peluang bagi startup untuk mendapatkan pendanaan menjadi lebih sulit. Bahkan bagi startup yang sudah mendapatkan suntikan dana, mereka juga akan mengurangi pengeluaran dengan perlahan-lahan mengurangi diskon dan promo. Pada akhirnya, situasi ini berdampak pada startup yang hanya hidup dari sokongan dana venture capital, alias belum sepenuhnya profit. (Sumber: https://www.binaracademy.com/blog/penyebab-awal-startup-bubble-burst).

Tahun 2022 dapat dicatat sebagai waktu yang penuh tantangan bagi dunia IT. Sejumlah besar perusahaan di sektor IT di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, ribuan pekerja kehilangan pekerjaan mereka. Tren serupa terjadi di seluruh dunia, termasuk di perusahaan raksasa seperti Amazon yang merumahkan 10.000 karyawan dan Twitter yang mem-PHK 7.500 karyawan. Bahkan efeknya masih terasa hingga pertengahan tahun 2023 ini.

Masalah: Supply Talent UI/UX Designer Meningkat

Masalah: Supply Talent UI/UX Designer Meningkat

Namun, tren di bidang UI/UX Design tidak melambat meskipun terjadi badai PHK. Sebaliknya, tren ini malah semakin meluas. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya tentang kursus UI/UX Designer, hal ini menghadirkan masalah baru: perusahaan-perusahaan besar (permintaan) merumahkan ribuan karyawan mereka, sementara lulusan dari kursus-kursus ini (penawaran) mencari pekerjaan saat perusahaan mengalami PHK. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply), dengan jumlah penawaran yang jauh melebihi permintaan.

Hal ini tercermin dari lonjakan jumlah pelamar untuk posisi UI/UX Designer yang bisa mencapai ribuan pelamar untuk satu posisi pekerjaan saja. Kondisi ini tentu menciptakan persaingan yang sangat ketat. Terjadi persaingan sengit antara para profesional berpengalaman dan mereka yang baru memulai perjalanan karir. Talent yang berpengalaman dan yang tidak berpengalaman jauh lebih besar daripada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.

Fenomena ini bukan hanya terkait dengan para penyedia platform belajar atau bootcamp. Ini berbicara tentang kenyataan persaingan yang ketat dan penuh tantangan. Mereka tidak akan menghadirkan program-program ini tanpa adanya minat yang tinggi. Keberadaan program ini mencerminkan tingginya minat dalam bidang ini.
Namun, tren di bidang UI/UX Design tidak melambat meskipun terjadi badai PHK. Sebaliknya, tren ini malah semakin meluas. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya tentang kursus UI/UX Designer, hal ini menghadirkan masalah baru: perusahaan-perusahaan besar (permintaan) merumahkan ribuan karyawan mereka, sementara lulusan dari kursus-kursus ini (penawaran) mencari pekerjaan saat perusahaan mengalami PHK. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply), dengan jumlah penawaran yang jauh melebihi permintaan.

Hal ini tercermin dari lonjakan jumlah pelamar untuk posisi UI/UX Designer yang bisa mencapai ribuan pelamar untuk satu posisi pekerjaan saja. Kondisi ini tentu menciptakan persaingan yang sangat ketat. Terjadi persaingan sengit antara para profesional berpengalaman dan mereka yang baru memulai perjalanan karir. Talent yang berpengalaman dan yang tidak berpengalaman jauh lebih besar daripada perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.

Fenomena ini bukan hanya terkait dengan para penyedia platform belajar atau bootcamp. Ini berbicara tentang kenyataan persaingan yang ketat dan penuh tantangan. Mereka tidak akan menghadirkan program-program ini tanpa adanya minat yang tinggi. Keberadaan program ini mencerminkan tingginya minat dalam bidang ini.

Realita Sesungguhnya yang Akan Dihadapi oleh UI/UX Designer

Realita Sesungguhnya yang Akan Dihadapi oleh UI/UX Designer

Namun, menjadi UI/UX Designer bukanlah hal yang semudah yang diajarkan di bootcamp, platform pembelajaran, atau kursus daring. Realitanya jauh lebih kompleks. Selain itu, mencapai gaji puluhan juta per tahun bukanlah jaminan pasti. Ada banyak tanggung jawab yang perlu diemban, dan budaya kerja di dunia nyata mungkin sangat berbeda dengan lingkungan pembelajaran
Namun, menjadi UI/UX Designer bukanlah hal yang semudah yang diajarkan di bootcamp, platform pembelajaran, atau kursus daring. Realitanya jauh lebih kompleks. Selain itu, mencapai gaji puluhan juta per tahun bukanlah jaminan pasti. Ada banyak tanggung jawab yang perlu diemban, dan budaya kerja di dunia nyata mungkin sangat berbeda dengan lingkungan pembelajaran

Tidak ada niat untuk menyalahkan para penyedia platform belajar atau bootcamp. Ini lebih tentang memahami kenyataan persaingan yang ketat dan sulit. Mengikuti pelatihan bukanlah keputusan yang murah, dan tentu tidak bijaksana jika usahanya tidak memberikan hasil yang diharapkan.


Pertanyaannya bukanlah apakah Anda diperbolehkan atau tidak untuk menjadi UI/UX Designer. Tetapi, pertanyaannya adalah, bagaimana Anda dapat Stand Out From The Crowd? Bagaimana Anda dapat menonjol dari persaingan yang begitu sengit dan ketat? Tentu, Anda tidak ingin menginvestasikan waktu dan uang dalam kursus yang akhirnya tidak membuahkan hasil, bukan?

Tidak ada niat untuk menyalahkan para penyedia platform belajar atau bootcamp. Ini lebih tentang memahami kenyataan persaingan yang ketat dan sulit. Mengikuti pelatihan bukanlah keputusan yang murah, dan tentu tidak bijaksana jika usahanya tidak memberikan hasil yang diharapkan.


Pertanyaannya bukanlah apakah Anda diperbolehkan atau tidak untuk menjadi UI/UX Designer. Tetapi, pertanyaannya adalah, bagaimana Anda dapat Stand Out From The Crowd? Bagaimana Anda dapat menonjol dari persaingan yang begitu sengit dan ketat? Tentu, Anda tidak ingin menginvestasikan waktu dan uang dalam kursus yang akhirnya tidak membuahkan hasil, bukan?

Akbar Fadillah Hermawan | Product Designer, UI/UX Designer

Akbar Fadillah Hermawan | Product Designer, UI/UX Designer

Social Media

Social Media

Akbar Fadillah Hermawan

Akbar Fadillah Hermawan

@akbar_hafsyah

@akbar_hafsyah

Akbar Hafsyah

Akbar Hafsyah

@uigraphic_

@uigraphic_

2024

2024

Akbar Fadillah Hermawan. All rights reserved.

Akbar Fadillah Hermawan. All rights reserved.